Dari beberapa sumber, kebebasan secara umum mempunyai makna di mana individu memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan keinginannya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita juga tidak asing dengan kata “kebebasan”. Namun bagaimana sebenarnya kita menyikapi kebebasan tersebut. Ada yang berprinsip kalau kebebasan adalah bertindak sebebas-bebasnya. Mungkin kebebasan diartikan mentah-mentah, kebebasan ya bebas.
Secara pribadi saya memandang kebebasan sebagai suatu tindakan yang dilakukan secara “bebas” namun tetap ada batasnya, seiring dengan kebebasan orang lain. Maksudnya di tengah kebebasan kita ada hak orang lain, nah di sanalah maksudnya bebas tersebut dibatasi oleh kepentingan orang lain. Misalnya ketika kita berpikir, ingin menyalakan TV kenceng-kenceng, toh TV saya, dinyalain di rumah saya, yang nyalain saya, dan segala ke-saya-an lainnya, Namun ketika orang lain juga punya hak kebebasan untuk tidur nyenyak dan mengatakan, saya ingin tidur, dengan mata saya, di rumah saya, Nah di sinilah kebebasan tersebut “ada batasnya”.
Seiring dengan perkembangan zaman kebebasan seolah menjadi sesuatu yang didewakan. Atas nama kebebasan, hak orang lain seolah dilabrak. Nilai-nilai kapitalisme yang sangat mengagungkan hak pribadi sedikit banyaknya mempengaruhi hal ini apalagi bagi penduduk di kota besar. “saya adalah saya”,“anda adalah anda”.
Sebenarnya ini merupakan hal sepele, yang memang sangat sepele. Cepat atau lambat, tren perilaku masyarakat lebih condong menuju masyarakat individualis yang menjunjung tinggi nilai “kebebasan”. Tergantung pribadinya masing-masing menyikapinya bagaimana.